Aspek Aspek Studi Kelayakan Usaha Peternakan (2)

Seri lanjutan ke-2

Aspek Teknis dan Zooteknis

Aspek teknis

Mempertimbangkan aspek teknis dalam menilai usaha dalam bidang peternakan sangatlah penting, karena aspek-aspek lain dari analisis usaha akan dapat berjalan apabila analisis secara teknis telah dilakukan.  Kerangka kerja rencana usaha harus dibuat dengan jelas agar aspek teknisnya dapat dianalisis secara tepat.

Aspek  teknis  dalam  studi  kelayakan  usaha  peternakan  setidaknya  mampu menjawab beberapa pertanyaan di bawah ini :

  1. Apakah studi dan pengujian pendahuluan pernah dilakukan ?
  2. Apakah skala produksi yang dipilih sudah optimal ?
  3. Apakah luas produksi ini akan meminimumkan biaya produksi rata-rata,ataukah akan memaksimumkan laba? Jadi, mempertimbangkan secara simultan faktor permintaan.
  4. Bagaimana fasilitasi untuk ekspansi nantinya? Tentang lokasi, luas tanah, pengaturan fasilitas produksi, dan sebagainya.
  5. Apakah proses produksi yang dipilih sudah tepat? Umumnya terdapat beberapa alternatif proses produksi untuk menghasilkan produk yang sama. Sebagai misal, semen bisa dibuat dengan proses basah ataupun proses kering, soda bisa dibuat dengan metode electrolysis atau metode kimia.
  6. Apakah  mesin-mesin  dan  perlengkapan  yang  dipilih   sudah  tepat ? Faktor yang diperhatikan adalah tentang umur ekonomis dan fasilitas pelayanan kalau terjadi kerusakan mesin-mesin tersebut.
  7. Apakah perlengkapan-perlengkapan tambahan dan pekerjaan-pekerjan Teknis tambahan telah dilakukan? Faktor-faktor seperti material handling, suplay bahan pembantu, kontrol kualitas,dan sebagainya perlu diperhatikan pula.
  8. Apakah telah disiapkan tentang kemungkinan penanganan terhadap limbah Produksi ?
  9. Apakah tata letak yang diusulkan dari fasilitas fasilitas produksi cukup baik
  10. Bagaimana dengan pemilihan lokasi dan ”site”produksi ?
  11. Apakah skedul kerja telah dibuat dengan cukup realities ?
  12. Apakah teknologi yang akan dipergunakan bisa diterima dari pandangan Social?Dalam pemilihan teknologi yang akan dipergunakan sebaiknya tidak dipergunakan teknologi yang sudah usang, atau teknologi yang masih dicoba-coba. Pertama akan mengakibatkan perusahaan nantinya sulit untuk bersaing, sedangkan yang kedua bisa mengakibatkan kesulitan dalam perawatan fasilitas.

Aspek Zooteknis

Perencana usaha dalam bidang peternakan dituntut untuk mengetahui dan memahami aspek zooteknis agar  mampu  mengkaji rencana usaha dari aspek tersebut,  sehingga perencana usaha  dapat  memberikan  penilaian  layak tidaknya sebuah  rencana usaha  dalam  bidang peternakan dari aspek zooteknis.

Jenis ternak yang dapat diusahakan banyak ragamnya dari mulai ternak ruminansia (seperti :  sapi,  kerbau, domba dan kambing),  ternak non ruminansia  (unggas, kuda dan  kelinci).

Masing-masing  jenis ternak  tersebut membutuhkan kesesuaian  lingkungan  yang  berbeda untuk tumbuh, reproduksi dan berproduksi secara optimum. Dengan demikian dalam merencanaka n usaha dibidang peternakan harus memperhatikan lokasi/ daerah yang sesuai dengan tuntutan fisiologis ternak yang akan diusahakan. Sebagai contoh ternak sapi perah akan berproduksi optimum pada suhu yang relatif dingin, dimana daerah yang relatif dingin berada pada daerah daerah pegunungan seperti di Lembang, Pangalengan, Ciwidey, Arjasari, Cipanas, dan daerah-daerah pegunungan lainnya. Berdasarkan uraian tersebut, maka aspek zooteknis menjadi bagian yang harus dipertimbangkan dalam studi kelayakan usaha/ bisnis peternakan.

Masing-masing   jenis   ternak   memiliki   parameter   produksi   dan  reproduksi  tersendiri. Parameter produksi dan reproduksi sapi perah akan berbeda dengan parameter produksi ternak unggas, sapi potong, kerbau, domba, kambing, dan begitu pula sebaliknya. Karena itu pengetahuan tentang parameter-parameter tersebut mutlak diketahui dan di pahami oleh seorang perencana usaha dalam bidang peternakan. Parameter produksi yang perlu diketahui untuk ternak yang tergolong ternak ruminansia adalah produksi susu (liter/ekor/hari) khusus untuk sapi perah, bobot sapih (kg), umur sapih (minggu), umur siap kawin (bulan), bobot badan siap kawin (kg), dan pertambahan bobot badan (ADG) khusus untuk ternak potong.

Kebutuhan pakan pun untuk setiap jenis ternak yang diusahakan akan berbeda dalam hal jenis pakan, kandungan nutrisi, dan jumlah yang dibutuhkannya. Kebutuhan pakan dalam satu jenis ternak yang sama sangat tergantung dari umur ternak, contohnya seperti untuk ayam pedaging pada umur di bawah 14 hari (strater) membutuhkan kandungan protein yang lebih besar dibandingkan pada umur fase grower dan finisher.

Kajian aspek zooteknis dalam studi kelayakan harus mampu menjawab pertanyaan- pertanyaan di bawah ini :

 

 

  1. Jenis ternak apa yang akan diusahakan ?
  2. Berapa skala usahanya ?
  3. Lingkungan fisik dan lingkungan non fisik bagaimanakah yang cocok dengan jenis ternak yang akan diusahakan ?
  4. Jenis pakan apa saja yang dibutuhkan, kandungan nutrisi dan jumlah pemberiannya berapa ?
  5. Bagaimana daya dukung lahan terhadap penyediaan pakan hijauan ?
  6. Bagaimanakah parameter produksi dari jenis ternak yang akan diusahakan ?
  7. Bagaimanakah parameter reproduksi dari jenis ternak yang akan diusahakan?
  8. Penyakit apa saja yang membahayakan jenis ternak yang akan diusahakan dan bagaimana cara mencegah dan mengobatinya ?

to be continued…..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s